Puisi Stop Bullying
Darah dan Air Mata
Di sudut kelas yang sunyi, aku menepi sendirian,
Dirundung tatapan sinis, dan tawa yang menyakitkan.
Luka di hati tak tampak, namun perih tak terperi,
Setiap kata tajam menusuk, merenggut harga diri.
Dinding-dinding seolah jadi saksi bisu,
Tentang jiwa yang merana, tanpa ada yang tahu.
Dirundung tatapan sinis, dan tawa yang menyakitkan.
Luka di hati tak tampak, namun perih tak terperi,
Setiap kata tajam menusuk, merenggut harga diri.
Dinding-dinding seolah jadi saksi bisu,
Tentang jiwa yang merana, tanpa ada yang tahu.
Di sekolah yang seharusnya penuh canda tawa,
Aku merasakan dinginnya tatapan dan bisikan,
Mereka menertawakanku, mengejek dengan lara,
Menciptakan luka yang sulit dihilangkan oleh harapan.
Aku merasakan dinginnya tatapan dan bisikan,
Mereka menertawakanku, mengejek dengan lara,
Menciptakan luka yang sulit dihilangkan oleh harapan.
Kau pikir kau kuat dengan menindas yang lemah,
Namun tindakanmu menjerumuskan dirimu pada kehancuran,
Setiap hinaanmu adalah jarum yang menusuk jiwa,
Menciptakan luka tak kasat mata, penuh kesedihan.
Namun tindakanmu menjerumuskan dirimu pada kehancuran,
Setiap hinaanmu adalah jarum yang menusuk jiwa,
Menciptakan luka tak kasat mata, penuh kesedihan.
Bangunlah dari tidurmu, jangan lagi diam membisu,
Hentikan tangan yang mengulurkan kebencian,
Berikan harapan bagi mereka yang terluka,
Mari bersatu, menghapus perundungan dari kehidupan.
Hentikan tangan yang mengulurkan kebencian,
Berikan harapan bagi mereka yang terluka,
Mari bersatu, menghapus perundungan dari kehidupan.
KARYA: Quthbi
Komentar
Posting Komentar